Para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor kelautan sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal-kapal negara Taiwan diakui telah dipekerjakan secara tidak manusiawi, 22 jam kerja dalam sehari, menurut informasi yang disampaikan pakar hukum perikanan internasional dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ahmad Solihin.
Ahmad bahkan menjelaskan kepada RRI, Selasa (10/1/2017), bahwa jaminan kesehatan pun tidak dimiliki para TKI, dengan upah yang dibawah standar dan kerap juga dipotong. Ahmad mengatakan pemotongan mencapai USD100 per bulan.
Baca : TKI Dari Tulungagung Dibunuh di Johor Malaysia
Itu katanya buat uang jaminan kalau terjadi apa-apa. Tapi, ternyata itu tidak dikeluarkan oleh pihak perusahaan kepada nelayan kita," Ujar Ahmad.
Dan fasilitas di atas kapal sangat memprihatinkan, bahkan beberapa nelayan kita meminum air minum itu dari hasil freezer es yang ada, sehingga, kadang-kadang mereka sakit perut dan sebagainya. Jadi air minum itu tidak disediakan di atas kapal dengan baik," ucap Ahmad.
Baca : TKI di Taiwan Alami Infeksi Kaki dan Harus Dioperasi
Ia mengatakan tidak mengerti pada pihak mana yang melakukan kesalahan, karena ditemukan bahwa sekitar setengah dari 220-300 ABK asal Indonesia tidak terdaftar di catatan pemerintah.
Baca : TKW Indonesia Di Dubai Kini Pulang Dalam Keadaan Kondisi Koma
Bahkan saya pernah mendengar dari salah satu nelayan yang mengatakan kepada teman-teman di NGO bahwa andaikan mereka pulang ke Indonesia, yang pertama akan dibakar adalah perusahaan agen tersebut. Karena emosi mereka. Mereka tidak punya sama sekali berdaya," tambah Ahmad, yang menggaris bawahi bahwa para ABK tersebut bisa saja dengan mudah dibuang ke laut bila bertindak di luar keinginan perusahaan yang menggaji mereka.
Ahmad bahkan menjelaskan kepada RRI, Selasa (10/1/2017), bahwa jaminan kesehatan pun tidak dimiliki para TKI, dengan upah yang dibawah standar dan kerap juga dipotong. Ahmad mengatakan pemotongan mencapai USD100 per bulan.
Baca : TKI Dari Tulungagung Dibunuh di Johor Malaysia
Itu katanya buat uang jaminan kalau terjadi apa-apa. Tapi, ternyata itu tidak dikeluarkan oleh pihak perusahaan kepada nelayan kita," Ujar Ahmad.
Dan fasilitas di atas kapal sangat memprihatinkan, bahkan beberapa nelayan kita meminum air minum itu dari hasil freezer es yang ada, sehingga, kadang-kadang mereka sakit perut dan sebagainya. Jadi air minum itu tidak disediakan di atas kapal dengan baik," ucap Ahmad.
Baca : TKI di Taiwan Alami Infeksi Kaki dan Harus Dioperasi
Ia mengatakan tidak mengerti pada pihak mana yang melakukan kesalahan, karena ditemukan bahwa sekitar setengah dari 220-300 ABK asal Indonesia tidak terdaftar di catatan pemerintah.
Baca : TKW Indonesia Di Dubai Kini Pulang Dalam Keadaan Kondisi Koma
Bahkan saya pernah mendengar dari salah satu nelayan yang mengatakan kepada teman-teman di NGO bahwa andaikan mereka pulang ke Indonesia, yang pertama akan dibakar adalah perusahaan agen tersebut. Karena emosi mereka. Mereka tidak punya sama sekali berdaya," tambah Ahmad, yang menggaris bawahi bahwa para ABK tersebut bisa saja dengan mudah dibuang ke laut bila bertindak di luar keinginan perusahaan yang menggaji mereka.