TKW Ponorogo Fadila, Yang Di Aniaya Majikan dan Tak Digaji Tolak Bantuan Rp 30 Juta

TKW Ponorogo Fadila, Yang Di Aniaya Majikan dan Tak Digaji Tolak Bantuan Rp 30 Juta

TKW Ponorogo Fadila, Yang Di Aniaya Majikan dan Tak Digaji Tolak Bantuan Rp 30 Juta

TKW Ponorogo Fadila, Yang Di Aniaya Majikan dan Tak Digaji Tolak Bantuan Rp 30 Juta
Keluarga TKW asal Ponorogo, Fadila Rahmatika (20), yang dianiaya majikan di Singapura menolak tawaran bantuan uang senilai Rp 30 juta dari orang yang mengaku perusahaan yang memberangkatkan gadis itu ke luar negeri. Tawaran bantuan itu ditolak karena adanya persyaratan mau berdamai dengan orang dan perusahaan yang memberangkatkan Dila ke luar negeri.

Ibunda Fadila, Masringah, yang dikonfirmasi di kediamannya, Rabu (18/1/2017), membenarkan penolakan bantuan itu. Dia mengatakan, sebagai syarat menerima bantuan, ia disodorkan tanda terima uang senilai Rp 30 juta yang ditengarai sebagai tanda damai.

Baca : Sunarsih Divonis Kanker Yang Hanya Satu Bulan Kerja Di Hongkong
Bantuan itu diberikan untuk menanggung biaya pengobatan Dila. Namun, permintaan itu ditolak Masringah karena dirinya ingin kasus penganiayaan yang telah dialami anaknya tetap diproses.
Ia kecewa karena pemberian bantuan dari pihak perusahaan itu tidak tulus dan ikhlas.

"Bantuan itu dari petugas lapangan senilai Rp 20 juta dan dari pihak perusahaan memberikan Rp 10 juta. Kami menolaknya, karena kalau memang tulus membantu ya tidak ada embel-embel untuk meminta menghentikan kasus ini," kata Masringah.

Selama delapan hari dirawat di RS Darmayu, kata Masringah, biaya perawatan Dila semua ditanggungnya sendiri.

Baca : TKW Hongkong Sayuti Masih Dalam Keadaan Koma Hingga Saat Ini
Total biaya yang dikeluarkan yaitu Rp 8 juta untuk delapan hari perawatan Dila di rumah sakit itu.
Untuk membayar biaya Dila di rumah sakit, Masringah merincikan dari kantong pribadi sebanyak Rp 5 juta dan dari sumbangan masyarakat Rp 3 juta.

Biaya itu belum termasuk biaya lain-lain yang diperkirakan mencapai Rp 2 juta. Masringah juga merasa kecewa dengan Pemkab Ponorogo yang berjanji akan membantunya. Namun, kenyataannya, Pemkab Ponorogo tidak membantu pembiayaan perawatan Dila.

Ibu dua anak itu mengharapkan proses hukum majikan Dila di Singapura terus berlanjut dan mendapatkan hukuman setimpal. Tak hanya itu, ia meminta hak-hak Dila selama bekerja di Singapura juga segera diterima.

Tangan dan jemari Fadila Rahmatika terus gemetar saat menunjuk bagian badan yang menjadi objek penyiksaan majikannya di Singapura, Tan Seok Neo.

Baca : TKI Yang Bekerja Di Kapal Taiwan Sering Minum Air dari Freezer
Mata gadis berumur 20 tahun itu acapkali menatap kosong saat menceritakan kisah kelamnya selama sepuluh bulan menjadi tenaga kerja wanita di Singapura.

Ditemui di rumah sederhananya di RT 01/RW 03, Dukuh Blimbing, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten ponorogo, Rabu ( 4/1/2017) siang, Dila, panggilan akrab Fadila, tak lancar berbicara.

Beberapa kali Dila memakai bahasa isyarat untuk menjelaskan maksud pembicaraannya.
Putri pertama pasangan Misni dan Masringah berkali-kali menyebut kata rumah sakit dan Singapura.

Kata rumah sakit disebutnya karena gadis kelahiran 19 Februari 1995 itu ingin segera sembuh. "Aku ingin sembuh," ucap Dila.

Sementara kata-kata Singapura disebut karena ia masih mengingat kejadian buruk yang menimpanya.
Sambil menangis, Dila menunjukkan beberapa bekas luka di jari kelingking, lengan, lutut, kaki hingga punggungnya.

Bekas luka yang ditunjukkan Dila akibat siksaan yang dilakukan majikannya saat berada di Singapura.

Baca : 12 Calon TKW Di Karanganyar Yang Terlantar Akan Dipulangkan
Didampingi ibu kandungnya, Masringah dan beberapa aparat desa, Dila menceritakan awal mula petaka yang menimpanya saat bekerja sebagai TKW di Singapura. Menurut Dila, siksaan fisik dan batin mulai dialami saat ia pindah ke majikan barunya. Saat tinggal di majikan pertamanya, Dila diperlakukan dengan baik.

"Majikan yang pertama baik sekali orangnya," ujar Dila dengan nada terbata-bata.
Dila tak betah di majikan pertama lantaran memiliki hewan piaran anjing.

Setelah dua bulan bekerja di majikan pertama itu, akhirnya Dila memutuskan pindah ke majikan kedua.

Tak dinyana, di majikan kedua ini hidupnya serba dikekang. Tak hanya itu, ia pun harus bekerja hingga pagi dini hari dan hanya diberikan makan mi instan saja. Majikan barunya pun sering menampar dan memukulnya bila Dila dianggap lambat bekerja. Bahkan, majikannya sering mengunci Dila di kamar mandi lalu menyiram air keras pada kaki dan tangannya.

Kondisi itu menjadikan kaki dan tangannya seperti lumpuh dan susah digerakkan.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, Dila yang sudah diperas habis-habisan tenaganya ternyata juga tidak digaji oleh majikannya. Ia hanya diberikan uang dua Dolar Singapura saat dipulangkan ke Indonesia via Batam.

"Selama delapan bulan bekerja aku juga tidak digaji sama sekali. Majikan baruku hanya memberiku uang dua dolar Singapura," ungkap Dila.

Baca : Pemakaman TKW Damini di Suriah Sudah mendapat Izin Keluarga
Menurut Dila, ia sering kelelahan hingga akhirnya jatuh pingsan lantaran banyaknya pekerjaan di majikan barunya. Ia pun akhirnya meminta pulang ke kampung halaman kepada majikannya karena sudah tidak betah lagi bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Masringah, ibu kandung Dila, menceritakan saat anaknya pulang ke kampung halaman satu bulan lalu kondisinya lebih memprihatinkan. Banyak bekas luka pada wajah anak pertamanya itu.

"Saat pertama kali Dila datang saya menangis. Anak saya yang dulu ceria kok sekarang seperti ini. Untuk makan dan minum saya harus menyuapnya," kata Masringah.
Menurut Masringah, untuk ke kamar mandi dan keluar rumah, Dila harus digendong karena tidak bisa berjalan.

Ia pun sudah membawa Dila ke rumah sakit dan ahli terapi agar kondisi kesehatan anaknya segera pulih seperti saat berangkat menjadi TKW.
Masringah tak bisa berbuat banyak karena kondisi ekonominya yang tak cukup membiayai berobat anaknya.

Baca : Puluhan peti berisi jasad TKI dikirim ke NTT sepanjang Tahun 2016
Pekerjaan suaminya, Misni yang mengandalkan kerja serabutan membuatnya hanya bisa pasrah.
Ia merasa beruntung saat ini sudah ada komunitas yang membantu Dila berobat ke ahli terapi di Kota Ponorogo setiap hari Selasa dan Kamis.

Joko, tetangga korban, kaget saat melihat kondisi Dila sepulang dari Singapura.
Sebelum berangkat ke Singapura, Dila dikenal sebagai gadis yang supel dan mudah bergaul.
Ia heran karena sepulang dari Singapura, Dila menjadi gadis yang pendiam, tertutup dan banyak menangis.

Share this:

Share this with short URL: Get Short URL loading short url

You Might Also Like:

loading...
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar Yang Disukai

0 Comment

Add Comment

Gunakan konversi tool jika ingin menyertakan kode atau gambar.


image
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS] - lihat di sini

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Like Pacapa? Keep us running by whitelisting Pacapa in your ad blocker.

This is how to whitelisting Pacapa in your ad blocker.

Thank you!

×
×
×